SEMARANG, (Gemparjateng.com) – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang mulai mematangkan arah pembangunan untuk 2027. Melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) 2027, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti membidik pertumbuhan ekonomi hingga 8,55 persen.
Target tersebut disampaikan Agustina saat membuka Musrenbang RKPD 2027 di Ruang Lokakrida, Balai Kota Semarang, Rabu (19/8/2026).
Tahun 2027 dinilai menjadi momentum penting karena memasuki tahun ketiga pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Semarang 2025–2029.
Menurut Agustina, penyusunan RKPD 2027 tidak berarti memulai pembangunan dari awal. Program yang sudah berjalan perlu dilanjutkan, dievaluasi, dan dipastikan memberikan manfaat yang semakin nyata bagi masyarakat.
“Musrenbang adalah ruang mempertemukan kebutuhan masyarakat dengan arah kebijakan pemerintah. Tugas kita hari ini menyusun semuanya menjadi prioritas yang paling memberi manfaat, paling dibutuhkan, dan paling siap dilaksanakan,” ujar Agustina.
Musrenbang tersebut diikuti 714 peserta secara luring maupun daring. Mereka berasal dari unsur pemerintah, DPRD, instansi vertikal, akademisi hingga organisasi kemasyarakatan.
Agustina menjelaskan, pembangunan Kota Semarang diarahkan untuk mewujudkan kota sebagai pusat ekonomi yang maju, berkeadilan sosial, lestari, dan inklusif.
Arah tersebut diwujudkan melalui lima pilar pembangunan, yakni Semarang Bersih, Semarang Sehat, Semarang Cerdas, Semarang Makmur, dan Semarang Tangguh.
“Lingkungan yang baik menopang kesehatan, masyarakat yang sehat dan cerdas memperkuat produktivitas, ekonomi yang tumbuh menciptakan kesejahteraan, dan semuanya membutuhkan tata kelola serta kota yang tangguh,” jelasnya.
Sebagai pijakan, sejumlah indikator pembangunan Kota Semarang pada 2025 menunjukkan capaian positif.
Pertumbuhan ekonomi tercatat 6,49 persen, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mencapai 85,80, angka kemiskinan turun menjadi 3,80 persen, sementara Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) berada di angka 5,65 persen.
Bagi Agustina, capaian tersebut bukan alasan untuk berhenti berbenah. Sebaliknya, angka-angka itu menjadi dasar untuk menentukan sektor yang masih perlu diperkuat dan program yang harus dipercepat.
“Angka-angka ini menunjukkan kemajuan, sekaligus menjadi dasar untuk menentukan pekerjaan berikutnya. Kita tidak boleh berhenti pada capaian, tetapi harus melihat apa yang masih perlu diperbaiki dan apa yang bisa kita akselerasi,” tegasnya.
Pembangunan pada 2027 juga akan melanjutkan 56 program dan 96 kegiatan unggulan prioritas Wali Kota yang telah berjalan. Sebagian program telah rampung, sementara lainnya masih dalam proses dan ditargetkan selesai pada 2027.
“Artinya, RKPD 2027 berlanjut dari program yang ada. Kita melanjutkan pekerjaan yang sudah berjalan dan memastikan hasilnya semakin terasa,” katanya.
Pariwisata dan Ekonomi Kerakyatan Jadi Penggerak
Untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi, Pemkot Semarang mengusung tema RKPD 2027, yakni “Pengembangan Pariwisata dan Ekonomi Kerakyatan Berbasis Produk Unggulan Daerah.”
Agustina menekankan, pengembangan pariwisata tidak semata-mata mengejar tingginya jumlah kunjungan.
Lebih dari itu, wisatawan diharapkan memiliki alasan untuk tinggal lebih lama dan membelanjakan uangnya di Kota Semarang.
“Kita ingin pariwisata membuat wisatawan tinggal lebih lama. Produk unggulan daerah didukung dari pendataan, kurasi, pembinaan, business matching hingga pasar, sementara infrastruktur menjadi pengungkitnya,” ungkapnya.
Pengembangan destinasi akan dilakukan secara terintegrasi melalui enam focal point, yakni Semarang Lama, Simpang Lima, Semarang Barat, Mijen-Gunungpati, Semarang Atas, dan Semarang Timur.
Sementara di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), Pemkot Semarang menyiapkan program Waras Ekonomi sebagai ekosistem pemberdayaan.
Program tersebut diarahkan untuk memperkuat pelaku UMKM mulai dari proses kurasi, pembinaan hingga evaluasi dampak.
Untuk sektor pariwisata, Pemkot Semarang menargetkan pengembangan lima destinasi wisata alam dan lima desa atau kampung wisata baru.
Selain itu, sebanyak 20 konten kreator akan mendapatkan pelatihan dengan target kunjungan wisatawan mencapai 9.461.037 orang pada 2027.
Penanganan Banjir Tetap Jadi Prioritas
Di tengah upaya menggerakkan ekonomi dan pariwisata, Agustina juga menegaskan pentingnya penanganan persoalan banjir. Menurutnya, aktivitas ekonomi akan sulit berkembang secara optimal apabila persoalan lingkungan dan infrastruktur dasar belum tertangani dengan baik.
Karena itu, penanganan banjir dilakukan secara terpadu dari wilayah hulu hingga hilir. Upayanya antara lain melalui optimalisasi pompa, normalisasi saluran serta integrasi saluran primer bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana melalui program National Urban Flood Resilience Project (NUFReP).
Sementara itu, sasaran makro pembangunan Kota Semarang pada 2027 mencakup pertumbuhan ekonomi sebesar 6,70–8,55 persen.
IPM ditargetkan meningkat menjadi 87,35, angka kemiskinan ditekan pada kisaran 3,52–3,31 persen, sedangkan TPT ditargetkan berada di kisaran 5,23–4,93 persen.
Agustina menegaskan seluruh target tersebut pada akhirnya tidak hanya diukur dari angka statistik, tetapi dari seberapa besar perubahan yang dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
“Seluruh angka, target, program, dan kebijakan ini memiliki satu ukuran: seberapa besar manfaatnya dirasakan masyarakat. Saya mengajak seluruh pemangku kepentingan menjadikan Musrenbang ini sebagai ruang kolaborasi yang sungguh-sungguh,” pungkasnya.***













