Panggung Warga Jadi Ruang Belajar, Murid Piwulang Becik Pentaskan Cerita Malin Kundang

SEMARANG, (Gemparjateng.com) – Suasana permukiman warga di Kelurahan Tinjomoyo, Kota Semarang, Sabtu (28/9), tampak berbeda dari biasanya. Panggung seni yang berada di lingkungan RT 04/RW 05 tidak hanya menjadi tempat hiburan bagi warga, tetapi juga ruang belajar bagi para murid PKBM Vokasi Piwulang Becik Semarang.

Di atas panggung sederhana tersebut, murid dari jenjang Paket A hingga Paket C tampil membawakan drama klasik Malin Kundang.

Pementasan itu menjadi bagian dari proses pembelajaran yang sengaja dilakukan di tengah lingkungan masyarakat.

Bagi para murid, tampil di hadapan warga bukan sekadar kesempatan untuk menunjukkan kemampuan seni.

Mereka juga belajar membangun keberanian, bekerja sama, berkomunikasi, sekaligus memahami kehidupan sosial di lingkungan tempat mereka belajar.

Pemilihan panggung Pentas Seni Warga sebagai lokasi pementasan pun bukan tanpa alasan.

Lingkungan RT 04/RW 05 Kelurahan Tinjomoyo merupakan salah satu kawasan yang menjadi domisili belajar peserta didik PKBM Vokasi Piwulang Becik Semarang.

Kepala PKBM Vokasi Piwulang Becik Semarang, Arif Supriyanto mengatakan pembelajaran bagi murid tidak harus selalu berlangsung di dalam ruang kelas.

Lingkungan masyarakat justru dapat menjadi ruang belajar yang memberikan pengalaman secara langsung kepada peserta didik.

Menurutnya, pementasan drama tersebut merupakan salah satu bentuk implementasi dimensi kewargaan dalam profil lulusan yang dikembangkan satuan pendidikan.

“Salah satu dimensi profil lulusan kami adalah dimensi kewargaan, di mana murid tidak hanya memiliki karya di bidang akademik atau berorientasi pada dirinya sendiri, tetapi juga dapat membumi dan berinteraksi dengan warga sekitar di mana dia hidup dan belajar,” kata Arif.

Ia menjelaskan, murid yang terlibat dalam pementasan merupakan peserta didik yang mengikuti program live in di sejumlah fasilitas penginapan milik sekolah yang berada di kawasan RT 04/RW 05 Kelurahan Tinjomoyo.

Program tersebut membuat para murid memiliki kesempatan untuk merasakan kehidupan di tengah masyarakat secara lebih dekat.

Mereka tidak hanya datang ke lingkungan warga ketika ada kegiatan sekolah, tetapi menjalani keseharian dan berinteraksi langsung dengan masyarakat sekitar.

“Jadi keberadaan mereka di tengah masyarakat bukan sekadar kegiatan sesaat. Interaksi dengan warga menjadi bagian dari pengalaman belajar sehari-hari,” jelasnya.

Melalui pola pembelajaran tersebut, Piwulang Becik berupaya memperluas makna pendidikan. Pengetahuan yang diperoleh murid tidak hanya berasal dari buku atau materi pembelajaran, tetapi juga dari pengalaman ketika mereka berhadapan langsung dengan lingkungan sosial.

Pementasan Malin Kundang menjadi salah satu contoh bagaimana seni dapat dipadukan dengan pendidikan karakter.

Para murid belajar memahami peran, mengelola emosi, menyampaikan pesan, serta bertanggung jawab terhadap tugas masing-masing dalam sebuah pertunjukan.

Di sisi lain, kehadiran mereka di tengah permukiman warga juga membuka ruang interaksi yang lebih hangat antara satuan pendidikan nonformal dengan masyarakat.

Panggung seni yang awalnya menjadi bagian dari kegiatan warga akhirnya menjadi ruang bersama.

Murid belajar dari masyarakat, sementara masyarakat turut menyaksikan proses tumbuh dan berkembangnya anak-anak yang menjalani pendidikan di lingkungan mereka.

Bagi Piwulang Becik, pengalaman semacam itu menjadi bagian penting dalam mempersiapkan lulusan yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga mampu beradaptasi, berkomunikasi dan mengambil peran positif di tengah masyarakat.

Dengan demikian, cerita Malin Kundang yang dimainkan para murid tidak berhenti sebagai sebuah pertunjukan di atas panggung.

Di balik kisah yang mereka bawakan, terselip proses belajar tentang keberanian, kebersamaan, tanggung jawab dan bagaimana menjadi bagian dari lingkungan tempat mereka hidup.***