Dari Sampah Jadi Cuan, Omah Keboen Kembangkan Pertanian, Peternakan hingga Perikanan

SEMARANG, (Gemparjateng.com) – Bermula dari aktivitas sederhana mengelola sampah rumah tangga, Bank Sampah Omah Keboen di Jalan Wonodri Sendang Raya 8, Kota Semarang, kini berkembang menjadi kawasan pertanian terintegrasi yang memadukan pengelolaan sampah, urban farming, peternakan, hingga perikanan.

Perkembangan tersebut mengantarkan Omah Keboen meraih Juara I Bank Sampah Terbaik Tingkat Kota Semarang 2026.

Prestasi itu menjadi bukti bahwa pengelolaan sampah di lingkungan perkotaan dapat dikembangkan menjadi kegiatan produktif yang memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.

Lokasinya pun cukup unik. Berada di tengah Kota Semarang dan berjarak kurang dari satu kilometer dari kawasan Simpang Lima, Omah Keboen justru mampu memanfaatkan lahan terbatas untuk mengembangkan berbagai aktivitas pertanian dan peternakan.

Di bawah kepemimpinan Dharant Noor Patria ST, konsep Omah Keboen terus berkembang menjadi sebuah sistem yang saling terintegrasi.

Sampah yang dikumpulkan tidak hanya dijual kembali, tetapi sebagian diolah dan dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan pertanian maupun peternakan.

“Awalnya hanya menerima sampah plastik, kardus, minyak jelantah, kaleng dan botol bekas air kemasan. Lalu perlahan kami melangkah ke pertanian lebih dulu dan berkembang ke yang lainnya,” ujar Dharant saat ditemui di lokasi Omah Keboen.

Dari aktivitas sederhana mengumpulkan botol bekas, pengelola kemudian mencoba memanfaatkannya sebagai media urban farming.

Lahan kosong di sekitar rumah dimanfaatkan untuk menanam berbagai tanaman dengan menggunakan wadah bekas.

Sejak 2022, konsep tersebut terus dikembangkan. Saat ini, Omah Keboen telah memiliki sekitar 30 nasabah bank sampah yang secara rutin menyetorkan sampah yang masih memiliki nilai ekonomi.

Tak berhenti pada pengelolaan sampah dan pertanian, Omah Keboen kemudian merambah sektor perikanan dengan membudidayakan ikan lele. Hasilnya pun mulai dirasakan.

Produksi lele yang dikembangkan kini bahkan mampu memenuhi kebutuhan sejumlah warung makan di sekitar lokasi.

Pengembangan berikutnya dilakukan melalui peternakan ayam KUB. Jenis ayam tersebut dikenal relatif lebih tahan terhadap penyakit dan memiliki produktivitas telur yang cukup tinggi.

“Kalau ayam biasa rata-rata hanya bisa bertelur sekitar 100 butir per tahun, ayam KUB bisa mencapai sekitar 160 butir per tahun,” jelas Dharant.

Menariknya, limbah dari peternakan tidak kemudian menjadi persoalan baru. Kotoran ayam dimanfaatkan kembali sebagai bahan pupuk, baik untuk pembuatan kompos maupun pupuk cair yang digunakan dalam kegiatan urban farming.

Bahkan, pupuk hasil pengolahan tersebut kini sudah memiliki nilai jual dan menjadi salah satu sumber pemasukan bagi Omah Keboen.

Sistem terintegrasi itu juga diperkuat dengan budidaya maggot. Larva tersebut dimanfaatkan sebagai pakan ikan lele maupun campuran pakan ayam KUB.

Dengan pola tersebut, berbagai kegiatan di Omah Keboen saling berkaitan. Sampah memiliki nilai ekonomi, limbah peternakan dapat dimanfaatkan menjadi pupuk, sementara hasil pertanian, perikanan dan peternakan dapat kembali memberikan pemasukan.

Dari berbagai aktivitas tersebut, Omah Keboen kini mampu menghasilkan pendapatan sekitar Rp3 juta hingga Rp5 juta per bulan.

Sumbernya berasal dari penjualan sampah, ikan lele, pupuk hingga telur ayam.

Meski nominal tersebut belum tergolong besar, bagi pengelola Omah Keboen, keberadaan bank sampah bukan semata-mata mengejar keuntungan.

Yang lebih penting adalah membuka peluang bagi masyarakat untuk mendapatkan tambahan penghasilan sekaligus membangun kesadaran mengelola lingkungan.

Ke depan, pengelola juga telah menyiapkan sejumlah target pengembangan.

Salah satunya membeli mesin pemanas untuk mengepres tutup botol air kemasan sehingga dapat diolah menjadi bahan kerajinan.

Target lainnya adalah memiliki mesin yang mampu mengolah botol bekas air mineral menjadi sapu.

“Semoga tahun ini seluruh target itu bisa terwujud. Jujur, kami masih belum menemukan penjual mesin semacam itu,” ungkap Dharant.

Pengembangan tersebut diharapkan semakin meningkatkan nilai ekonomi sampah yang selama ini masih dianggap sebagai barang tidak berguna.

Pada saat yang sama, upaya tersebut menjadi bagian dari gerakan mengurangi sampah plastik di Kota Semarang.

Lurah Wonodri Noor Chosim mengapresiasi perkembangan Bank Sampah Omah Keboen yang dinilainya tidak hanya berorientasi pada pengelolaan lingkungan, tetapi juga pemberdayaan masyarakat dan ketahanan pangan.

“Bank Sampah Omah Keboen ini tidak saja melakukan pemberdayaan warga, tetapi juga berupaya mengurangi sampah plastik dan yang pasti melakukan upaya ketahanan pangan seperti program dan visi Wali Kota Agustina Wilujeng,” katanya.

Menurutnya, keberhasilan Omah Keboen menunjukkan bahwa keterbatasan lahan di kawasan perkotaan bukan menjadi penghalang untuk menciptakan kegiatan produktif.

Dengan kreativitas dan kolaborasi masyarakat, sampah dapat diubah menjadi sumber daya yang memiliki nilai ekonomi.

Tak heran jika kemudian Omah Keboen dinobatkan sebagai bank sampah terbaik tingkat Kota Semarang 2026.

Ke depan, keberadaannya diharapkan tidak hanya memberikan manfaat bagi warga Wonodri, tetapi juga menjadi tempat belajar bagi masyarakat dari wilayah lain yang ingin mengembangkan konsep serupa.

Dari sampah yang dikumpulkan, tanaman yang ditanam, ikan yang dibudidayakan, hingga ayam dan maggot yang diternakkan, Omah Keboen menunjukkan bahwa lingkungan dan ekonomi dapat berjalan beriringan.

Sebuah langkah kecil dari tengah kota yang perlahan tumbuh menjadi contoh bagaimana pengelolaan sampah dapat dikembangkan menjadi sistem pertanian terintegrasi sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat.***