SEMARANG, (Gemparjateng.com) – Senyum, lambaian tangan, dan sapaan warga mewarnai ruas jalan Kota Semarang, Sabtu (12/9). Ribuan kafilah dari 38 provinsi berjalan bersama dalam Pawai Ta’aruf MTQ Nasional XXXI Tahun 2026.
Pawai yang menempuh jarak sekitar 2,5 kilometer itu dimulai dari Balai Kota Semarang dan berakhir di Kantor Gubernur Jawa Tengah.
Sepanjang rute, warga tampak berjejer menyaksikan rombongan kafilah yang datang dari berbagai penjuru Nusantara.
Bagi Kota Semarang, pawai tersebut bukan sekadar rangkaian kegiatan menyambut MTQ Nasional. Momen itu menjadi ruang perjumpaan antara masyarakat dengan para tamu yang hadir membawa warna dan budaya dari daerah masing-masing.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti menyebut Pawai Ta’aruf sebagai panggung kebersamaan yang mempertemukan masyarakat dengan para kafilah dari berbagai daerah.
“Kita ingin para kafilah yang datang dari berbagai daerah merasa diterima dan menjadi bagian dari keluarga besar Kota Semarang. Pawai ini menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk bertemu, saling mengenal, dan merasakan keberagaman yang ada,” ujar Agustina.
Suasana hangat juga dirasakan para peserta. Juwita Rampandondo, kafilah asal Sulawesi Utara, mengaku antusias mengikuti pawai meski harus berjalan kaki sepanjang sekitar 2,5 kilometer.
Bagi Juwita, keikutsertaannya kali ini terasa lebih istimewa karena menjadi pengalaman pertamanya mengikuti MTQ Nasional.
“MTQ kali ini sangat seru, meriah banget. Ini MTQ Nasional pertama aku, jadi kesannya meriah banget, keren. Jawa Tengah keren,” ungkap Juwita.
Kesan serupa disampaikan Surya, peserta lainnya. Menurut dia, sambutan masyarakat sepanjang perjalanan menjadi energi tersendiri bagi para kafilah.
Lambaian tangan dan senyum warga yang berdiri di sepanjang jalan membuat perjalanan terasa lebih ringan. Para kafilah pun terus melangkah dengan semangat hingga mencapai garis akhir rute pawai.
Antusiasme tidak hanya datang dari para peserta. Sejumlah warga Kota Semarang juga sengaja meluangkan waktu untuk menyaksikan langsung parade kafilah.
Agus, warga Gedung Batu, Ngemplak Simongan, datang bersama keluarganya untuk melihat Pawai Ta’aruf. Ia mengaku senang sekaligus bangga karena Kota Semarang dipercaya menjadi tuan rumah MTQ Nasional XXXI.
“Sebagai warga Kota Semarang, kita merasa senang dan bangga bahwa Kota Semarang menjadi tuan rumah MTQ nasional,” katanya.
Kehadiran kafilah dari berbagai daerah juga membuat suasana keberagaman terasa kuat di sepanjang rute. Masyarakat dari berbagai latar belakang berbaur menyambut rombongan yang melintas.
Tidak hanya warga, keterlibatan masyarakat juga terlihat dari kehadiran anggota Pramuka Kota Semarang. Mereka mendampingi setiap kontingen sekaligus membantu pengawalan rombongan selama perjalanan.
Para anggota Pramuka juga ikut menjaga kebersihan di sepanjang rute. Kehadiran mereka menjadi bagian dari upaya memastikan pawai berlangsung tertib sekaligus tetap nyaman bagi masyarakat dan para peserta.
Bagi Agustina, keterlibatan berbagai unsur masyarakat tersebut menunjukkan bahwa MTQ Nasional XXXI bukan hanya menjadi agenda para kafilah, tetapi juga menjadi momentum yang dapat dirasakan bersama oleh warga Kota Semarang.
“Mari kita sambut para tamu dengan keramahan, kita jaga kebersihan kota, dan kita berikan suasana yang nyaman bagi seluruh kafilah selama berada di Kota Semarang,” pungkas Agustina.
Pawai Ta’aruf akhirnya menjadi lebih dari sekadar perjalanan rombongan menuju lokasi kegiatan. Di sepanjang jalan Kota Semarang, pertemuan warga dan kafilah menghadirkan wajah keberagaman Indonesia dalam suasana yang hangat.
Dari lambaian tangan warga hingga langkah para kafilah yang datang dari berbagai penjuru negeri, MTQ Nasional XXXI di Kota Semarang menjadi momentum untuk merawat persaudaraan, keramahan, dan kebersamaan.***













