SEMARANG, (Gemparjateng.com) – Pemerintah Kota Semarang, melalui Dinas Pertanian Kota Semarang menggelar Pameran dan Kontes Tanaman Hias 2025, di Halaman Wonderia, Jl. Sriwijaya, Kota Semarang. Kegiatan tersebut berlangsung 10 hari, yakni sejak hari Jum’at, tanggal 14 hingga 23 November 2025.
Pameran dan Kontes Tanaman Hias 2025 tersebut baru akan dibuka secara resmi oleh Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti pada hari Minggu, 16 November 2025 besok.
Terkait dengan acara tersebut, Organisasi Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) Kota Semarang juga ikut berpartisipasi dan meramaikan kegiatan Pameran Tanaman Hias di Wonderia dengan memamerkan karya-karya bonsai yang sangat cantik dan berkualitas.
Diketahui bahwa pada acara Pameran dan Kontes Tanaman Hias di Wonderia, PPBI Kota Semarang membawa 10 Komunitas Bonsai Kota Semarang dan memamerkan kurang lebih 54 tanaman atau pohon Bonsai.
Sepuluh komunitas Bonsai dari PPBI Semarang yang ikut meramaikan acara tersebut diantaranya, Smartbon, Sedulur Bonsai Plat H, Compacta, Komunitas Bonsai Banget Ayu Wetan, Harmony Bonsai, Edial Bonsai Official, Rowosari Bonsai Club, Tunggak Serut, Komunitas Bonsai Klipang, dan Sekolah Bonsai Tropis Indonesia.
Selain itu juga pada kesempatan tersebut, hadir secara langsung untuk mengunjungi stand PPBI Kota Semarang, yakni Kepala Dinas Pertanian Kota Semarang Shoti’ah, S.P. dan Ketua PPBI Jawa Tengah, Tosim Hamudi.
Diketahui juga bahwa PPBI Kota Semarang merupakan wadah bagi para komunitas atau pecinta Bonsai yang ada di Kota Semarang.
“Jadi kami mewakili daerah PPBI cabang Kota Semarang ikut serta dalam Pameran Tanaman Hias yang diadakan oleh Dinas Pertanian Kota Semarang atau Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang, nah kita sebagai komunitas tanaman hias khusunya Bonsai, yang mana PPBI kita menaungi 10 komunitas yang ada di Kota Semarang,” kata Ketua PPBI Cabang Kota Semarang, Bambang Wida kepada wartawan, Sabtu, 15 November 2025.
Bambang Wida juga menjelaskan bahwa pihaknya sangat mendukung kegiatan yang diadakan oleh Dinas Pertanian Kota Semarang. Menurutnya kegiatan ini juga bisa sebagai ajang edukasi untuk para pengunjung, khususnya warga Kota Semarang yang berkunjung.
“Tentu kami sangat support dan mendukung acara yang diadakan oleh Dinas Pertanian Kota Semarang. Jadikan di sini yang bergabung ada 10 komunitas, dan ada 54 tanaman Bonsai dengan berbagai macam jenisnya, jadi masyarakat dapat menyaksikan langsung seperti apa tanaman Bonsai itu,” jelasnya.
Sebagai informasi bahwa, Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia atau PPBI Kota Semarang hingga saat ini sudah memiliki anggota dengan jumlah ratusan orang.
“Nah untuk PPBI Semarang itu sendiri mas, memiliki anggota tetap yang memiliki KTA itu 150 anggota dan kemudian yang belum memiliki KTA itu sekitar kurang lebih 200, tetapi secara keseluruhan mungkin bisa lebih ribuan orang peminat bonsai di kota Semarang ini yang sudah beraktivitas tinggi didalam dunia bonsai di wilayah kota Semarang,” ungkapnya.
Untuk peminat Bonsai sendiri, Bambang Wida juga mengatakan bahwa di kota Semarang sangat banyak pecinta Bonsai.
“Terlihat pada hari ini ya mas, meskipun acaranya baru akan dibuka secara resmi besok, tapi antusias masyarakat ketika mengetahui info ada pameran Bonsai, mereka langsung datang dan menyaksikan dan banyak yang langsung berkunjung ke stand kami untuk menyaksikan karya Bonsai kami. Ini membuktikan bahwa, pecinta Bonsai di Kota Semarang ini sangat banyak,” ucapnya.
Jenis-Jenis Bonsai di Indonesia
Bambang Wida menjelaskan bahwa banyak jenis tanaman Bonsai di Indonesia. Meskipun tidak ada jumlah pasti mengenai berapa jenis tanaman Bonsai yang ada di Indonesia, kata Bambang Wida, namun secara teori, hampir semua pohon berkayu dapat dibonsai dan ada banyak spesies tanaman yang populer dan umum digunakan atau dibudidayakan sebagai bonsai di Indonesia, baik tanaman asli Indonesia maupun introduksi.
“Jadi jenis-jenis tanaman Bonsai yang populer di Indonesia itu seperti, Cemara, Hokiantea, Lohansung, Sancang, Asam Jawa, Bugenvil, Kemuning, Azalea, Delima, Fikus (beberapa jenis pohon Ara atau beringin),” jelasnya.
Keanekaragaman jenis ini, kata dia, didukung oleh iklim tropis Indonesia yang memungkinkan berbagai tanaman tumbuh subur, sehingga memudahkan para penghobi untuk bereksperimen dengan berbagai spesies lokal untuk dijadikan Bonsai.
“Intinya adalah banyak sekali jenisnya ya mas, di Indonesia sendiri banyak tanaman endemik yang bisa dibudidayakan atau pun di buat Bonsai yang mana dibanding dengan negara-negara lain, di Indonesia lebih kaya, terkait tanaman yang bisa dibuat Bonsai,” imbuhnya.
Tak lupa, pada kesempatan itu, Bambang Wida juga menyampaikan terimakasih kepada Pemerintah Kota Semarang khususnya Dinas Pertanian Kota Semarang yang memberikan kesempatan kepada PPBI Semarang untuk bisa mengikuti, memeriahkan kegiatan ini.
“Kami bersyukur, dan mengucapkan terimakasih kepada Dinas Pertanian Kota Semarang yang mana telah memberikan waktu dan ruang, serta wadah bagi kami para pecinta bonsai di kota Semarang,” ungkapnya.
“Dimana kami di sini bisa menampilkan karya-karya kami dari anak bangsa Kota Semarang dalam berbonsai dan dalam meningkatkan budidaya serta memperkenalkan kepada masyarakat tanaman ekonomi kreatif yaitu Bonsai, serta bisa menumbuh kembangkan perekonomian pertanian di kota Semarang,” imbuhnya.
Teknik Perawatan Tanaman Bonsai
Sedangkan untuk Tehnik merawat Bonsai, Ngadimin, selaku Diklat PPBI Kota Semarang kepada wartawan mengatakan bahwa merawat Bonsai membutuhkan perhatian dan konsistensi, karena media tanamnya yang terbatas di pot kecil.
Menurutnya ada teknik perawatan utama meliputi penyiraman, pencahayaan, pemupukan dan pemangkasan.
“Jadi untuk merawat Bonsai itu Penyiraman yang tepat sangat penting. Tujuannya adalah menjaga kelembapan tanah, tetapi tidak sampai tergenang air yang dapat menyebabkan akar busuk. Trus juga Frekuensi, tidak ada jadwal yang kaku, maksudnya frekuensi tergantung pada ukuran pot, jenis pohon, dan kondisi cuaca,” ujar Ngadimin.
kemudian, lanjut Ngadimin, Bonsai yang lebih kecil mungkin perlu disiram dua kali sehari (pagi dan sore), sementara yang lebih besar cukup sekali sehari. Di musim kemarau, penyiraman mungkin lebih sering diperlukan.
“Jadi semua itu ada tekniknya mas, tetapi tergantung juga pada jenis pohonnya itu sendiri. Misalnya saja Bonsai jenis Santigi atau Pemphis Acidula adalah salah satu jenis Bonsai yang paling populer dan prestisius terutama di Indonesia. Karena, jenis ini memiliki karakteristik kayunya yang eksotis dan ketahanannya di lingkungan pesisir. Pohon ini dikenal dengan sebutan lain seperti stigi atau drini,” pungkasnya.
“Cara perawatannya tidak boleh ada limbah di bawah, media harus porus, kemudian serut harus ada media yang dari tanah, harus dicampur dengan pasir malang biar porus. Sisir juga harus ada media tanahnya, santigi tidak boleh ada tanahnya sama sekali kurang lebih seperti itu dan masih banyak lagi. Yang harus di edukasi kan mas,” imbuhnya.
Sekolah Bonsai PPBI Kota Semarang
Ngadimin juga mengatakan bahwa di PPBI Kota Semarang juga membuka klas untuk pembelajaran tentang merawat Bonsai.
“Nah untuk itu PPBI kota Semarang ini sudah secara periodik kepada komunitas tadi sudah kami lakukan edukasi-edukasi. Diluar itu juga kami adakan Sekolah Bonsai Tropis, bahkan kami, juga sudah ada dua klas, klas 1 dan kelas 2 atau kelas A atau B,” paparnya.
“Nah yang kelas A sudah sampai kepada Intermediate dari besik kemudian lulus dilanjutkan ke intermediate. Berikutnya akan di ajarkan terus sampai ketingkat pro,” imbuhnya.
Perlu diketahui bahwa, PPBI Kota Semarang juga memiliki Basecamp, yakni di, Klipang, tepatnya, di Jl. Klipang Pesona Asri II, blok E, No 62, Semarang.
“Tapi biasanya disetiap komunitas-komunitas juga ada basecamp sendiri-sendiri. Jadi dibawah PPBI Kota Semarang itu ada 10 komunitas dan masing-masing memiliki basecamp dan klas edukasi-edukasi di masing-masing komunitas,” kata Ngadimin.
“Dimana masing-masing komunitas memiliki pembelajaran sendiri-sendiri terkait Bonsai, tetapi semua di bawah pengawasan PPBI Cabang kota Semarang,” ucapnya.
Pohon atau Tanaman Bonsai Berprestasi yang Dipamerkan
Bambang Wida menambahkan bahwa terkait dengan Pameran dan Kontes Tanaman Hias ini, PPBI memamerkan Pohon-pohon yang berprestasi.
” Kami di sini memamerkan berbagai macam jenis Bonsai, Semua bahkan ada yang prestasi internasional. Sedangkan untuk tingkat nilai jual dari pohon bonsai yang menentukan adalah prestasi dari tanaman bonsai itu sendiri,” katanya.
“Jadi umur juga pengaruh tapi lebih pengaruh di prestasinya. Jadi bisa sampai 200 hingga 300 juta rupiah,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kota Semarang, Shoti’ah, S.P. mengatakan bahwa, kegiatan selama 10 hari ini, bukan hanya memamerkan Tanaman Hias saja, melainkan juga produk UMKM seperti, craft, kerajinan, multi produk, dan Kuliner.
“Ya ini adalah merupakan pameran yang kami laksanakan sekitar 10 hari, ini kami ingin menciptakan atau membangun bagaimana kita menyatukan beberapa komunitas, yang ada di tanaman hias dan ini memang konsepnya pameran dan Kontes Tanaman hias,” kata Shoti’ah.
“Tapi kami berupaya untuk mengkombinasikan kegiatan ini tidak hanya didalam pameran dan Kontes Tanaman hias saja, sebenernya ini lebih kearah bagaimana kita mengkolaborasikan beberapa kegiatan termasuk diantaranya mengangkat UMKM ekonomi kreatif yang ada di kota Semarang,” jelasnya.
Menurutnya, kegiatan ini juga dapat menjadi salah satu tujuan wisata yang bisa di kunjungi oleh masyarakat/warga Kota Semarang. Apa lagi, kata dia, ini dilaksanakan selama 10 hari.
“Artinya ada dua weekend di acara ini, nah ini bisa di manfaatkan oleh warga Semrang untuk jalan-jalan menikmati hari libur, sehingga harapannya, ini bisa menjadi salah satu tujuan wisata juga,” ungkapnya.
Selain untuk mewujudkan atau pengembangan destinasi wisata, Shoti’ah juga berharap acara Pameran dan Kontes Tanaman Hias ini bisa menjadi wadah atau sebagai tempat berkumpul para komunitas.
“Bisa saling berdialog berdiskusi dengan komunitas-komunitas yang lain yang ada dan yang mengikuti pameran. Ini merupakan konsep yang saya rasa sangat bagus yang kami laksanakan. Tentu juga dalam upaya kami selain itu untuk perputaran ekonomi ini, kami juga mengharapkan ini akan mendapatkan peluang yang sangat bagus nantinya,” paparnya.
Terkait dengan dampak positif ekonomi yang dirasakan oleh Kota Semarang sendiri, Shoti’ah menjelaskan bahwa tentu acara ini sangat berpengaruh terkait pertumbuhan ekonominya.
“Ya saya rasa pasti ada mas, apa lagi Bonsai ini kan memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi, artinya ya bahwa memang harapan kami ini sebagai upaya salah satu yang sudah saya sampaikan tadi, bahwa pameran ini sebagai upaya tidak hanya bonsai sebenernya, tetapi dengan adanya bonsai juga menjadi salah satu menjadikan sumber atau mendapatkan ekonomi tambah untuk Kota Semarang itu sendiri,” ujarnya.
Shoti’ah juga mengungkapkan bahwa untuk peserta yang mengikuti kegiatan pameran ini sebanyak kurang lebih ada 70 peserta pameran.
“Jadi dari tanaman hias itu ada 42 stand untuk UMKM Ekraf ini ada sekitar tiga puluh 30 stand, sehingga ya hampir 70 lebih peserta pameran,” ungkapnya.
“Semoga acara ini betul betul bisa memberikan dampak baik dan kelihatan perputaran ekonominya,” imbuhnya.
” Ya untuk masyarakat, ayolah kunjungi dan ramaikan acara ini, jadi agar acara ini bisa dirasakan warga masyarakat khususnya Kota Semarang. Tetapi harapan saya ini bisa berkembang tidak hanya pengunjung dari Kota Semarang saja, melainkan dari luar Semarang juga bisa ikut meramaikan acara di Wonderia ini,” pungkasnya.
Sementara itu, Dul Rohim, pengunjung pameran, warga Meteseh Tembalang, Kota Semarang mengatakan bahwa, pihaknya sangat tertarik dan senang ada pameran Bonsai.
Diketahui bahwa, Dul Rohim yang datang bersama istrinya itu juga merupakan pencinta tanaman Bonsai.
“Sangat menarik mas, saya tau acara ini itu dari grup WhatsApp, lalu saya bersama istri datang untuk menyaksikan. Tentu ini bisa menjadi ajang edukasi juga ya mas bagi warga Semarang yang belum mengenal tanaman Bonsai, nah bagi yang sudah mencintai tanaman Bonsai seperti saya dan istri saya, dengan adanya acara ini tentu bisa menjadi edukasi tambahan bagi saya dan bertukar pengalaman dengan komunitas pecinta Bonsai yang ada di sini,” kata Dul Rohim.
“Saya berharap acara ini rutin digelar, agar semakin banyak warga yang tau dan tertarik dengan Bonsai,” pungkasnya.***













