SEMARANG, (Gemparjateng.com) – Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) naik kelas melalui kurasi usaha, pendampingan sesuai kebutuhan, serta perluasan akses pasar.
Upaya tersebut dilakukan melalui program Waras Ekonomi yang mengintegrasikan berbagai program pemberdayaan UMKM di Kota Semarang.
Wali Kota Semarang yang akrab disapa Agustina itu menyampaikan hal itu saat menghadiri Bursa Wirausaha Unggulan Jawa Tengah 2026 di Muladi Dome Universitas Diponegoro (Undip), Rabu (7/10/2026).
Kegiatan tersebut menjadi wadah kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, pelaku UMKM, lembaga inkubator, dunia usaha, dan lembaga pembiayaan untuk memperkuat ekosistem kewirausahaan.
“Untuk UMKM Kota Semarang memiliki program namanya Waras Ekonomi, yang merupakan turunan dari program strategis nasional. Kemudian beberapa program dari provinsi kita jadikan satu dengan program Pemerintah Kota Semarang,” ujar Agustina.
Salah satu langkah yang tengah dilakukan Pemkot Semarang adalah mengkurasi sekitar 1.000 UMKM untuk dikelompokkan ke dalam klaster usaha berdasarkan karakteristik dan kebutuhan masing-masing.
Melalui pendekatan tersebut, pendampingan diharapkan lebih terarah sehingga sesuai dengan kondisi dan potensi setiap usaha.
“Sekarang tahapannya menyelesaikan ada seribu UMKM untuk kurasi ke klaster tertentu. Dengan kurasi ini, pendampingan bisa lebih tepat sesuai kebutuhan masing-masing usaha,” jelasnya.
Berdasarkan data Waras Ekonomi per 5 Oktober 2026, sebanyak 1.038 akun UMKM telah terdaftar. Dari jumlah tersebut, 609 akun atau 61,07 persen telah terverifikasi secara profil dan siap memperoleh pendampingan program.
Selain itu, tercatat 149 pelaku usaha dengan 58 produk yang telah terverifikasi lengkap dalam platform Waras Ekonomi.
Kurasi UMKM tersebut juga diarahkan untuk memperluas akses pasar. Sebanyak 43 produk UMKM hasil kurasi telah masuk ke jaringan ritel modern dan sektor perhotelan melalui kemitraan dengan sejumlah pelaku usaha, antara lain Alfamart, Kampoeng Semarang, Farmers Market, Hotel Pandanaran, Hotel Horison Nindya, dan AEON.
Sementara itu, melalui Program RISE yang dijalankan Dinas Koperasi dan Usaha Mikro (UM), sebanyak 20 produk UMKM terkurasi telah memasuki jaringan Pelangi, Gelael, OLSEM, Istana Buah, dan AEON.
Pemkot Semarang juga menyiapkan program inkubasi ekspor melalui Waras Ekonomi 2026.
Program ini ditujukan untuk membuka peluang bagi produk UMKM lokal agar dapat menembus pasar internasional, termasuk Amerika Serikat.
“Target kita bukan sekadar banyaknya UMKM, tetapi bagaimana usaha-usaha tersebut benar-benar berdaya, memiliki pasar, mampu berkembang, membuka lapangan kerja, dan pada akhirnya memberikan dampak bagi perekonomian Kota Semarang,” tegas Agustina.
Menurutnya, pengembangan UMKM tidak dapat dilakukan pemerintah sendiri, tetapi membutuhkan dukungan berbagai pihak.
Bursa Wirausaha Unggulan Jawa Tengah 2026 menjadi salah satu sarana untuk mempertemukan pelaku usaha dengan perguruan tinggi, perbankan, dunia usaha, lembaga inkubator, serta pemangku kepentingan lainnya.
“Terima kasih karena ada event seperti ini sehingga kami mendapatkan jaminan support dari berbagai pihak, terutama dari kementerian, Bank Himbara, perguruan tinggi, dan para aktivis UMKM yang siap melakukan pendampingan terhadap UMKM kami,” katanya.
Melalui Waras Ekonomi, Pemkot Semarang juga mulai menghubungkan pengembangan UMKM dengan sektor pertanian dan perikanan.
Upaya tersebut dilakukan melalui pemetaan pelaku usaha, penguatan produksi, identifikasi pembeli atau offtaker, serta business matching untuk mempertemukan produk dengan kebutuhan pasar.
Agustina menegaskan, sinergi antarpihak menjadi kunci agar UMKM tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berkembang secara berkelanjutan.
“Ini adalah kerja bersama. Pemerintah menyediakan ekosistem dan membuka akses, perguruan tinggi memberikan pengetahuan dan pendampingan, perbankan membuka akses pembiayaan, dunia usaha membuka pasar, sementara pelaku UMKM harus terus meningkatkan kualitas produknya,” ujarnya.
Bursa Wirausaha Unggulan Jawa Tengah 2026 diikuti lebih dari 1.000 peserta, yang terdiri atas sekitar 500 pelaku UMKM dan 760 mahasiswa calon pengusaha dari 17 perguruan tinggi di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Kegiatan tersebut juga melibatkan 27 lembaga inkubator dengan berbagai agenda, mulai dari diskusi (talk show), inspirational talk, presentasi bisnis perusahaan rintisan (pitching startup), business matching, hingga akad Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Melalui kolaborasi tersebut, Agustina berharap semakin banyak UMKM Kota Semarang yang mampu meningkatkan kualitas usaha, memperluas jangkauan pemasaran, dan menciptakan lapangan kerja baru.
“Harapannya, semakin banyak UMKM Semarang yang naik kelas. Bukan hanya bertahan, tetapi tumbuh, menciptakan lapangan kerja, memperluas pasar, dan membawa produk Semarang semakin dikenal,” pungkasnya.***













