TMMD Sengkuyung Tahap III Rampung, Pemkot Semarang Dorong Pembangunan Berbasis Gotong Royong

SEMARANG, (Gemparjateng.com) – Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Sengkuyung Tahap III Tahun 2026 di Kelurahan Sawah Besar, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang, resmi ditutup.

Penutupan berlangsung di Ruang Lokakrida Balai Kota Semarang, Kamis (13/8/2026), setelah rangkaian kegiatan dilaksanakan selama kurang lebih satu bulan.

Penutupan program tersebut dilakukan Wakil Wali Kota Semarang Iswar Aminuddin yang mewakili Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti.

Kegiatan TMMD menjadi salah satu bentuk kolaborasi antara TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam mempercepat pembangunan serta meningkatkan kesejahteraan warga.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti menyampaikan apresiasi kepada jajaran Kodim 0733/Kota Semarang, pemerintah kecamatan dan kelurahan, serta masyarakat Kelurahan Sawah Besar yang turut bergotong royong menyukseskan program tersebut.

Menurut Agustina, TMMD memiliki kedekatan dengan kebutuhan sehari-hari masyarakat karena pembangunan yang dilakukan menyentuh berbagai kebutuhan dasar warga.

“TMMD memiliki makna yang dekat dengan kehidupan warga. Pembangunan yang dilakukan berfokus pada kebutuhan mendasar yang dampaknya langsung dirasakan oleh keluarga,” ujarnya.

Dandim 0733/Kota Semarang melalui Kepala Staf Kodim Yohanes Heru Wibowo mengatakan, pelaksanaan TMMD Sengkuyung Tahap III mengusung tema “TMMD Satukan Langkah Membangun Negeri dari Desa”.

Program tersebut menjadi bagian dari sinergi antara TNI dan pemerintah daerah untuk mempercepat pemerataan pembangunan infrastruktur sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya di kawasan permukiman.

Selama pelaksanaan TMMD di Sawah Besar, sejumlah pekerjaan fisik maupun nonfisik telah diselesaikan.

Di antaranya peninggian jalan dan talud di kawasan Dempel Barat sepanjang 200 meter, penyiapan tandon air bersih, serta rehabilitasi 10 unit Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) yang mendapat dukungan dari Baznas Kota Semarang.

Selain pembangunan fisik, kegiatan TMMD juga diisi dengan berbagai program pemberdayaan masyarakat. Mulai dari penyuluhan kesehatan keluarga, pembinaan remaja, pelatihan keterampilan, hingga pelayanan administrasi bagi masyarakat.

Agustina mengatakan, rehabilitasi 10 unit RTLH di Sawah Besar menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kota Semarang mempercepat penanganan rumah tidak layak huni di berbagai wilayah.

Pada 2026, Pemkot Semarang menargetkan perbaikan sekitar 2.500 unit RTLH melalui kolaborasi berbagai sumber pembiayaan, mulai dari APBD, APBN, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, hingga dukungan dari sektor swasta melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR.

“Rumah merupakan tempat tumbuh kembang anak-anak dan ruang beristirahat orang tua. Perbaikan sepuluh rumah di Sawah Besar ini memiliki arti besar bagi masa depan keluarga yang menghuninya,” kata Agustina.

Selain persoalan hunian, Pemerintah Kota Semarang juga terus memberikan perhatian terhadap persoalan banjir di wilayah Kecamatan Gayamsari.

Kawasan Sawah Besar dan Kaligawe merupakan bagian dari sistem pengendalian Sungai Tenggang yang membutuhkan pengelolaan secara menyeluruh dan berkelanjutan.

Salah satu infrastruktur penting dalam sistem tersebut adalah Kolam Retensi Rusunawa-Kaligawe. Kolam retensi tersebut memiliki luas sekitar 14,3 hektare dengan kapasitas tampung mencapai sekitar 228.700 meter kubik.

Agustina menegaskan, keberadaan saluran air, pompa, dan kolam retensi harus terus dirawat serta dikembangkan agar sistem pengendalian banjir dapat berfungsi secara optimal. Air di kawasan rawan genangan harus dapat ditampung, dialirkan, dan dipompa secara terkendali.

Pemkot Semarang, lanjutnya, juga tengah menyusun konsep pengelolaan banjir di kawasan timur secara lebih terpadu.

Salah satu yang dikaji adalah kemungkinan pemanfaatan aset untuk membangun kolam-kolam retensi yang dapat saling terkoneksi dalam satu sistem pengendalian banjir.

“Penanganan banjir harus dilakukan dari hulu hingga hilir dengan perencanaan yang matang dan melibatkan masyarakat,” ujarnya.

Menurut Agustina, keberhasilan sistem pengendalian banjir tidak hanya bergantung pada infrastruktur. Kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan, tidak membuang sampah sembarangan, serta merawat fasilitas yang telah dibangun juga menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi risiko banjir.

Ia pun mengajak masyarakat Sawah Besar untuk terus menjaga hasil pembangunan yang telah diwujudkan melalui program TMMD.

“Gotong royong antara TNI, pemerintah, dan warga terbukti mampu menghadirkan perubahan yang nyata. Saya titip agar jalan, talud, tandon air, dan rumah yang sudah diperbaiki ini kita rawat bersama,” pungkasnya.***