Prestasi Nasional, LPPM USM Sabet Penghargaan Indonesia Patent Awards 2026

SEMARANG, (Gemparjateng.com) – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Semarang (USM) berhasil meraih penghargaan dalam ajang Indonesia Patent Awards (IPA) 2026 pada kategori Best Lembaga Penelitian dan Perguruan Tinggi.

Penghargaan yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI), Kementerian Hukum tersebut menjadi bentuk apresiasi atas kontribusi perguruan tinggi dan lembaga penelitian dalam menghasilkan inovasi berbasis paten.

Indonesia Patent Awards 2026 diikuti 40 finalis yang terpilih dari sekitar 3.000 penerima paten di seluruh Indonesia. Sebanyak 15 finalis berasal dari submisi tertutup yang bersaing pada kategori Best Perorangan serta Best Lembaga Penelitian dan Perguruan Tinggi.

Sementara itu, 25 finalis dari submisi terbuka berkompetisi pada kategori Best Commercialization Model dan Best Green and Blue Innovation Patent.

Kategori submisi tertutup diperuntukkan bagi paten sederhana yang diberikan pada periode 1 Juli 2025 hingga 30 Juni 2026.

Penjurian tahap II berlangsung pada 26–29 Oktober 2026, setelah sebelumnya dilaksanakan penjurian tahap I dan technical meeting finalis di Gedung DJKI, Jakarta, pada 19 Oktober 2026.

Para pemenang dijadwalkan mempresentasikan inovasinya kepada calon investor dalam Forum Bisnis Paten Indonesia pada 3–5 November 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta.

Dalam ajang tersebut, USM mengikutsertakan invensi berjudul Mesin Pengolah Padi Portabel Berbasis Internet of Things dengan Tiga Fungsi Terintegrasi dan Penyedia Energi Surya dengan Nomor Paten IDS000012009.

Inovasi tersebut merupakan hasil karya tim inventor yang terdiri atas Prof. Dr. Ir. Mudjiastuti Handajani, M.T., IPM, ASEAN Eng.; Dr. Ir. Andi Kurniawan Nugroho, S.T., M.T., IPM; dan Dr. Muhammad Ikhsan Setiawan, S.T., M.T.

Andi Kurniawan menjelaskan, alat yang dikenal dengan nama Milling Rice tersebut merupakan hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang didanai DPPM pada 2025. Program itu menyasar masyarakat PEKKA di Desa Tamangede, Kabupaten Kendal.

Menurutnya, mesin pengolah padi portabel tersebut dirancang dengan teknologi Internet of Things (IoT) yang mengintegrasikan tiga fungsi utama dalam satu perangkat, yakni perontokan atau pengupasan padi, pemisahan sekam, batu, dan kotoran berat, serta penggilingan menjadi tepung.

“Mesin digerakkan oleh energi surya dan dilengkapi corong padi, pengupas padi, pemisah sekam, pemisah batu dan padi, tempat padi, tempat kerikil, penggiling tepung, motor penggerak, belt, panel surya, serta panel daya dan kontrol,” ujarnya.

Dia menambahkan, keunggulan lain dari mesin tersebut terletak pada modul IoT yang mampu mengirimkan data operasional secara real time ke server awan dan smartphone.

“Konfigurasi ini memungkinkan pemantauan jarak jauh, pencatatan data, serta pengendalian kerja mesin secara nirkabel, sehingga bermanfaat bagi petani dan kelompok usaha tani di wilayah yang akses energinya terbatas,” ungkapnya.

Rektor USM, Dr. Supari, S.T., M.T., menyampaikan apresiasi atas pencapaian LPPM USM dalam ajang penghargaan tingkat nasional tersebut.

Menurutnya, prestasi ini menunjukkan bahwa hasil penelitian dosen USM tidak hanya berhenti pada pengembangan akademik, tetapi juga mampu menghasilkan teknologi tepat guna yang dapat dimanfaatkan langsung oleh masyarakat.

“Capaian ini membuktikan bahwa riset dosen USM mampu melahirkan teknologi tepat guna yang praktis, hemat energi, dan langsung menjawab kebutuhan petani,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua LPPM USM, Prof. Dr. Ir. Mudjiastuti Handajani, M.T., IPM, ASEAN Eng., mengatakan, keberhasilan memperoleh penghargaan tersebut menjadi bukti nyata hilirisasi hasil penelitian perguruan tinggi.

Mesin pengolah padi portabel bertenaga surya dan terintegrasi IoT itu dinilai mampu meningkatkan efisiensi proses pascapanen melalui penggabungan tiga fungsi dalam satu perangkat.

“Mesin pengolah padi portabel bertenaga surya dan terhubung IoT ini menggabungkan tiga fungsi dalam satu perangkat sehingga proses pascapanen menjadi lebih efisien, dapat dipantau dari jarak jauh, dan ramah lingkungan,” jelasnya.

Ia menegaskan, USM akan terus mendorong lahirnya inovasi dosen yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Ke depan, pihaknya berkomitmen memperkuat hilirisasi riset serta memperluas kerja sama dengan mitra industri dan kelompok petani agar hasil invensi tersebut dapat dimanfaatkan secara lebih luas.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual (Dirjen DJKI), Hermansyah Siregar, menegaskan bahwa paten tidak semata-mata dibuat untuk memenuhi angka kredit akademik. Lebih dari itu, hasil invensi harus mampu menjawab kebutuhan industri dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

Penghargaan ini sekaligus memperkuat komitmen USM dalam mengembangkan riset dan inovasi yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat serta mendorong pemanfaatan hasil penelitian melalui hilirisasi teknologi.***(bgy)