Ketika CEO Berkata “Ide Saya Sudah Kuno”, Sebuah Pelajaran tentang Regenerasi

Oleh: Adi Ekopriyono

SEMARANG, (Gemparjateng.com) – Dua hari setelah penyelenggaraan “Prasasta Gala Awards”, saya mendapat pesan WhatsApp dari Direktur Utama PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk, Irwan Hidayat. Isinya ternyata kutipan pernyataannya dalam CEO Insights.

“Ide-ide saya sudah kuno, saya sendiri merasakan itu.”

Pernyataan tersebut berkaitan dengan keputusannya kembali menjabat sebagai CEO Sido Muncul pada usia 79 tahun, antara lain untuk memastikan perusahaan dapat diserahkan dalam kondisi yang lebih baik kepada generasi berikutnya.

Kalimat serupa juga disampaikan Irwan Hidayat ketika menerima penghargaan Life Achievement Prasasta Gala Windu Bhakti dalam perhelatan yang digelar Universitas Semarang (USM) berkolaborasi dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) serta Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Tengah.

Penghargaan tersebut diberikan atas dedikasinya selama lima dekade dalam membangun industri yang selaras dengan alam dan masyarakat sekitar.

Sekilas, kalimat “ide-ide saya sudah kuno” mungkin terdengar biasa. Namun, menjadi menarik ketika pernyataan itu datang dari seorang pemimpin yang telah puluhan tahun berada di puncak perusahaan.

Di balik kalimat sederhana tersebut terdapat bentuk kerendahan hati sekaligus kesadaran bahwa dunia tidak pernah berhenti berubah.

Pengalaman seseorang, betapapun panjang dan berhasil, tetap memiliki batas relevansi.

Kepemimpinan dan Regenerasi

Pengakuan tersebut secara substantif berkaitan erat dengan prinsip kepemimpinan dan regenerasi.

Kembali memimpin pada usia lanjut bukan semata-mata persoalan mempertahankan posisi. Hal yang lebih penting adalah bagaimana pengalaman digunakan untuk memastikan perusahaan tidak berhenti pada keberhasilan satu generasi.

Seorang pemimpin dapat kembali menduduki kursi tertinggi justru karena menyadari bahwa pemikiran lama tidak selamanya cukup untuk menghadapi masa depan.

Pengalaman adalah modal, bukan monopoli.

Dalam organisasi, pengalaman sering ditempatkan sebagai sumber kebijaksanaan. Orang yang telah puluhan tahun berkecimpung dalam dunia bisnis tentu memiliki pengetahuan yang tidak dapat diperoleh dalam semalam.

Ia memahami karakter pelanggan, dinamika organisasi, perubahan pasar, hubungan dengan para pemangku kepentingan, hingga berbagai krisis yang pernah dilalui.

Namun, lingkungan bisnis tidak memiliki kewajiban untuk tetap sama.

Teknologi berubah. Konsumen berubah. Generasi pekerja berubah. Model bisnis berubah. Bahkan definisi mengenai nilai sebuah produk pun dapat berubah.

Karena itu, pengalaman seharusnya menjadi modal untuk memahami perubahan, bukan alasan untuk menolak perubahan.

Pemimpin yang matang bukan orang yang selalu merasa memiliki semua jawaban. Ia adalah orang yang cukup percaya diri untuk mengatakan, “Saya mungkin tidak lagi memiliki semua jawaban.”

Ada Masa untuk Memimpin, Ada Masa untuk Memberi Jalan

Kepemimpinan sering dipahami sebagai kemampuan berada di depan. Seorang pemimpin dituntut menentukan arah, mengambil keputusan, menyelesaikan persoalan, dan memastikan semua orang bergerak menuju tujuan yang sama.

Namun, ada dimensi kepemimpinan yang sering kurang dibicarakan, yaitu kemampuan memberi jalan.

Pada awal perjalanan, seorang pemimpin mungkin harus menjadi lokomotif. Ia menarik organisasi keluar dari keterbatasan, membangun keberanian, mengambil risiko, sekaligus membuka jalan.

Tetapi organisasi yang sehat tidak boleh selamanya bergantung kepada lokomotif yang sama.

Pada suatu titik, pemimpin harus memastikan orang lain mampu mengemudikan kereta yang telah dibangunnya.

Di sinilah regenerasi menjadi bagian penting dari strategi perusahaan.

Regenerasi bukan sekadar mencari pengganti direktur. Regenerasi adalah membangun kemampuan organisasi untuk melanjutkan perjalanan tanpa kehilangan identitasnya.

Ada perbedaan mendasar antara pemimpin yang ingin mempertahankan jabatan dan pemimpin yang ingin mempertahankan keberlanjutan organisasi.

Pemimpin yang berorientasi pada jabatan cenderung bertanya, “Bagaimana saya tetap dibutuhkan?”

Sementara pemimpin yang berorientasi pada keberlanjutan bertanya, “Bagaimana organisasi ini tetap kuat ketika suatu hari saya tidak lagi dibutuhkan?”

Pertanyaan kedua jauh lebih sulit.

Pertanyaan itu menuntut seorang pemimpin membangun sistem, menyiapkan orang, mentransfer pengetahuan, memperkuat budaya organisasi, dan membuka kesempatan bagi generasi baru untuk mengambil keputusan.

Keberhasilan seorang CEO tidak hanya tercermin dari laporan keuangan ketika ia memimpin. Ada ukuran yang lebih panjang: apakah perusahaan tetap memiliki masa depan ketika tongkat estafet berpindah tangan?

Jika jawabannya ya, berarti pemimpin tersebut telah membangun sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.

Generasi Muda Bukan Salinan Generasi Sebelumnya

Generasi muda tidak harus menjadi salinan generasi sebelumnya.

Generasi baru hidup dalam dunia yang berbeda. Mereka mungkin menggunakan teknologi dengan cara berbeda, memiliki pola komunikasi berbeda, melihat pelanggan dari perspektif berbeda, dan memiliki keberanian yang berbeda dalam mengambil risiko.

Perbedaan tersebut justru dapat menjadi sumber pembaruan.

Generasi senior memiliki pengalaman. Generasi muda memiliki perspektif baru. Organisasi membutuhkan keduanya.

Hubungan antargenerasi bukan hubungan antara “yang tahu” dan “yang harus belajar”. Akan lebih sehat jika dipandang sebagai hubungan antara dua sumber pengetahuan yang saling melengkapi.

Yang senior membawa kedalaman. Yang muda membawa kesegaran.

Yang senior memahami mengapa sesuatu dibangun. Yang muda lebih peka terhadap ke mana dunia sedang bergerak.

Pengawal Arah

Peran pemimpin senior perlu berubah.

Ia tidak harus selalu menjadi orang yang mengambil keputusan terakhir. Perannya dapat berkembang menjadi penjaga nilai, mentor, pembuka perspektif, sekaligus pengawal arah strategis.

Perubahan peran semacam itu merupakan bentuk lain dari kekuasaan yang lebih dewasa, yakni kemampuan membuat orang lain mampu.

Seorang pemimpin yang hebat tidak hanya menghasilkan pengikut, tetapi juga menghasilkan pemimpin baru.

Jika setiap keputusan harus menunggu dirinya, berarti organisasi belum sepenuhnya mandiri.

Sebaliknya, ketika orang-orang di dalam organisasi mampu mengambil keputusan dengan nilai dan arah yang sama, berarti pemimpin telah berhasil menanamkan sesuatu yang jauh lebih tahan lama daripada sekadar instruksi.

Bagi perusahaan keluarga, persoalan regenerasi memiliki dimensi yang lebih kompleks.

Perusahaan bukan sekadar aset ekonomi. Di dalamnya terdapat sejarah keluarga, nilai, perjuangan, bahkan identitas beberapa generasi.

Generasi pertama biasanya menghadapi pertanyaan: bagaimana membangun?

Generasi kedua menghadapi pertanyaan: bagaimana memperkuat?

Generasi ketiga menghadapi pertanyaan: bagaimana mengembangkan dan memprofesionalkan?

Generasi berikutnya menghadapi pertanyaan yang semakin sulit: bagaimana menjaga warisan tanpa menjadi tawanan masa lalu?

Pertanyaan terakhir sangat penting.

Warisan tidak seharusnya menjadi museum. Warisan harus menjadi fondasi untuk membangun masa depan.

Nama besar perusahaan, reputasi, nilai keluarga, dan pengalaman masa lalu perlu dijaga. Namun, cara mengelolanya tidak harus selalu sama.

Di sinilah regenerasi diuji.

Bukan ketika generasi baru mengambil alih jabatan, melainkan ketika generasi baru diberi kesempatan untuk mengambil keputusan yang mungkin berbeda dari generasi sebelumnya.

Mengakui Keterbatasan Justru Memperkuat Kepemimpinan

Kalimat “ide-ide saya sudah kuno” sebenarnya dapat dibaca sebagai bentuk kesadaran diri.

Seorang pemimpin yang menyadari perubahan akan lebih terbuka mendengarkan orang-orang yang mungkin lebih memahami dunia baru.

Ada kebijaksanaan tertentu dalam mengakui keterbatasan.

Seorang CEO tidak kehilangan wibawa ketika mengatakan bahwa generasi muda memiliki gagasan yang lebih segar. Ia justru menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan kompetisi untuk membuktikan siapa yang paling pintar.

Kepemimpinan adalah kemampuan menyatukan berbagai kekuatan untuk mencapai tujuan yang lebih besar.

Kerendahan hati bukan kelemahan. Kerendahan hati merupakan kemampuan untuk tidak membiarkan ego pribadi menjadi lebih besar daripada kepentingan organisasi.

Perusahaan yang baik bukan perusahaan yang bergantung pada satu orang.

Sebuah perusahaan mungkin memiliki pendiri yang visioner, CEO yang kuat, atau tokoh yang sangat berpengaruh. Namun, perusahaan yang sehat tidak boleh berhenti pada kehebatan satu orang.

Jika seluruh keputusan bergantung kepada satu figur, organisasi memang bisa bergerak cepat. Tetapi risiko ketergantungan juga menjadi besar.

Sebaliknya, perusahaan yang membangun sistem dan kaderisasi akan memiliki kemampuan beradaptasi yang lebih kuat.

Suksesi Harus Dipersiapkan Sejak Dini

Karena itu, pertanyaan tentang suksesi seharusnya tidak baru muncul menjelang seorang pemimpin pensiun.

Suksesi perlu menjadi bagian dari strategi sejak jauh-jauh hari.

Pemimpin yang serius terhadap masa depan seharusnya mulai menyiapkan penerus ketika dirinya masih berada dalam masa produktif kepemimpinan.

Regenerasi yang baik bukan menyerahkan jabatan secara tiba-tiba.

Tongkat estafet tidak boleh dilempar kepada generasi berikutnya lalu berharap mereka mampu menangkapnya.

Ada proses belajar, pendampingan, kesempatan mengambil keputusan, ruang untuk melakukan kesalahan, evaluasi, dan kepercayaan.

Itulah sebabnya, salah satu pekerjaan terpenting seorang pemimpin adalah menciptakan ruang bagi calon pemimpin untuk bertumbuh sebelum mereka benar-benar menjadi pemimpin.

Orang tidak menjadi pemimpin hanya karena mendapatkan jabatan. Mereka menjadi pemimpin karena sebelumnya diberi kesempatan untuk belajar memimpin.

Kepemimpinan adalah Keberlanjutan

Kepemimpinan pada akhirnya adalah tentang keberlanjutan.

Kita sering mengingat seorang pemimpin karena prestasi yang dicapai pada masa kepemimpinannya. Namun, organisasi akan mengingatnya lebih lama karena sesuatu yang ditinggalkan setelah masa kepemimpinannya berakhir.

Kepemimpinan bukan semata-mata persoalan berapa lama seseorang memegang jabatan.

Kepemimpinan adalah tentang seberapa baik seseorang mempersiapkan organisasi untuk berjalan tanpa dirinya.

Karena itu, pengakuan bahwa gagasan seseorang mungkin sudah kuno dan tidak lagi sepenuhnya sesuai dengan zaman bukanlah akhir dari kepemimpinan.

Bisa jadi, justru itulah salah satu bentuk kedewasaan seorang pemimpin.

Ia tahu bahwa dirinya pernah penting. Ia tahu bahwa pengalamannya masih berharga. Namun, ia juga tahu bahwa masa depan membutuhkan orang-orang baru, gagasan baru, dan keberanian baru.

Warisan terbaik seorang pemimpin bukanlah jabatan yang berhasil dipertahankan, melainkan masa depan yang berhasil dipersiapkan.

Penulis adalah Direktur Pusat Bahasa dan Budaya Universitas Semarang (USM Language and Culture Center – LCC).***(bgy)