SEMARANG, (Gemparjateng.com) – Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Semarang (Ilkom USM) menggelar sosialisasi komunikasi gender bertajuk “Ruang Aman untuk Semua” di SMK Negeri 2 Semarang, baru-baru ini.
Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman siswa tentang pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, suportif, serta bebas dari diskriminasi dan perundungan sosial.
Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi pembelajaran Mata Kuliah Komunikasi Gender dan Minoritas yang diampu Retno Manuhoro Setyowati, S.Sos., M.I.Kom.
Tim mahasiswa yang terlibat terdiri atas Wiku Dwi Aji Pramono sebagai ketua, Muhammad Dava Aji Pratama sebagai sekretaris, Nadya Puspa Zahra sebagai bendahara, serta anggota Ikhsan Ramadhan, Lusyana Dewinta Sari, Rayhan Atalla, Praja Adi Dharma, Mohamad Sabiqul Umam, Gunawan Bima Kusuma, dan Ika Fistiana.
Ketua pelaksana, Wiku Dwi Aji Pramono, mengatakan kegiatan yang diikuti siswa kelas X Jurusan Usaha Layanan Pariwisata (ULP) tersebut mengusung tagline “Saling Rangkul, Bukan Saling Sikut: Wujudkan Ruang Aman Bersama.”
“Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan pemahaman peserta mengenai pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, suportif, dan bebas dari perilaku diskriminasi maupun perundungan sosial,” ujarnya.
Dalam pemaparan materi, Praja Adi Dharma menjelaskan konsep safe space atau ruang aman sebagai lingkungan yang memungkinkan setiap individu merasa dihargai, didengarkan, dan diterima tanpa rasa takut terhadap stigma, penghakiman, maupun pengucilan sosial.
Menurutnya, ruang aman menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung tumbuh kembang remaja, terutama di lingkungan sekolah yang menjadi tempat interaksi sosial sehari-hari.
Materi yang disampaikan juga mengangkat berbagai fenomena yang kerap terjadi di kalangan remaja, seperti terbentuknya kelompok eksklusif atau circle, perilaku saling menghakimi, body shaming, hingga konflik interpersonal yang dapat memengaruhi kesehatan mental dan kenyamanan siswa.
“Ruang aman bukan berarti semua orang harus selalu setuju satu sama lain, tetapi bagaimana kita bisa saling menghargai tanpa menjatuhkan,” kata Praja.
“Lingkungan sekolah seharusnya menjadi tempat yang membuat siswa merasa nyaman untuk berkembang dan menjadi diri sendiri tanpa takut dikucilkan,” imbuhnya.
Kegiatan diawali dengan pemutaran film pendek yang mengangkat tema pertemanan dan pengucilan sosial.
Setelah menyaksikan film tersebut, para peserta diminta mengisi lembar refleksi untuk menuliskan pandangan, perasaan, serta pelajaran yang diperoleh dari tayangan yang mereka saksikan.
Selanjutnya, para siswa mengikuti diskusi bersama untuk membahas hasil refleksi dan berbagi pengalaman terkait isu yang diangkat dalam film.
Sementara itu, Bendahara kegiatan, Nadya Puspa Zahra, berharap kegiatan tersebut dapat mendorong siswa untuk lebih terbuka dalam menyampaikan pendapat dan perasaannya.
“Kami berharap mereka tidak hanya menonton film pendek, tetapi juga berani menyampaikan apa yang mereka rasakan dan pikirkan,” ujar Nadya.
“Selain itu, mereka dapat lebih memahami pentingnya empati, saling menghargai, dan menjaga perasaan satu sama lain dalam lingkungan pertemanan,” lanjutnya.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa Ilmu Komunikasi USM berharap nilai-nilai empati, toleransi, dan penghargaan terhadap sesama dapat semakin tumbuh di lingkungan sekolah, sehingga tercipta ruang yang aman dan inklusif bagi seluruh siswa.***(bgy)













