Berita  

Lima Rektor Soroti Tantangan AI dan Etika Pers di Peringatan HPN Jateng 2026

SEMARANG, (Gemparjateng.com) – Perkembangan digital AI saat ini sudah menjadi sebuah keniscayaan, terutama di kalangan mahasiswa dan generasi muda, serta dunia pers secara umum.

Hal itu diungkapkan Wakil Rektor I USM Prof. Haslina, M.Si mewakil Rektor USM Dr. Supari, S.T., M.T dalam Dialog 5 Rektor sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Pers Nasional (HPN) Tingkat Jateng Tahun 2026, di Ruang H Panoet Harsono, Lt 4, Universitas BPD, Jl Soekarno Hatta Semarang, No 88 Semarang, belum lama ini.

Dialog tersebut mengusung tema “Menyehatkan Peran Kontrol Sosial untuk Memperkuat Kemerdekaan Pers”.

Lima pimpinan perguruan tinggi hadir sebagai narasumber, yakni Rektor Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang Prof. Dr. Pulung Nurtantio Andono, S.T., M.Kom, Rektor Universitas BPD Prof. Dr. Sri Tutie Rahayu, M.Si, Wakil Rektor III Unimus Dr. Eny Winaryati, M.Pd, Rektor Universitas Panca Sakti Tegal Prof. Dr. Taufiqulloh, M.Hum, serta Wakil Rektor I Universitas Semarang (USM) Prof. Dr. Ir. Haslina, M.Si mewakili Rektor USM Dr. Supari, S.T., M.T.

Menurut Prof Haslina, digitalisasi AI tidak bisa dihindari. Mahasiswa dan anak muda hidup di tengah arus teknologi yang terus berkembang.

”Karena itu, dibutuhkan kecermatan, sikap kritis, serta daya imajinasi dan kreativitas agar pemanfaatan digital AI bisa memberikan dampak yang positif,” katanya.

Dalam dialog tersebut, Rektor Udinus Prof Pulung Nurtantio Andono menegaskan, pers memiliki peran fundamental dalam pembangunan nasional.

“Tanpa pers, pembangunan dan capaian Indonesia tidak akan diketahui publik. Pers menjadi penyeimbang sekaligus penggerak dalam perjalanan bangsa,” ujarnya.

Sementara itu, Rektor Universitas BPD Prof Sri Tutie Rahayu menyebut pers sebagai salah satu pilar utama demokrasi yang harus terus dijaga marwahnya.

”Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab mengedukasi mahasiswa dan dosen tentang etika pers sebagai bagian dari sistem demokrasi,” katanya.

Sedangkan Rektor Universitas Panca Sakti Tegal Prof Taufiqulloh menambahkan, kecakapan di ruang digital saja tidak cukup tanpa kontrol sosial yang kuat.

”Diperlukan kontrol sosial yang bersifat formal melalui kode etik pers, maupun kontrol sosial informal agar ruang publik tetap sehat,” ujarnya.

Di bagian lain, Wakil Rektor III Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), Dr. Eny Winaryati, M.Pd mengatakan, dalam konteks bermedia ada tiga hal penting yang dihadirkan yaitu edukasi, partisipasi dan hati nurani.

Jika ketiganya dipatuhi, fungsi pers akan berjalan dengan semestinya.

Dia juga menyebut tiga hal tersebut juga terdapat dalam Surat Iqro’ yang menerangkan tentang penglihatan, pendengaran, dan hati manusia.

”Tugas media adalah memberikan narasi-narasi yang bisa dipertanggungjawabkan memberikan kenikmatan bagi audiens berupa layanan-layanan yang bersifat inderawi, baik informasi dan edukasi,” jelasnya.

“Sebaliknya, audiens yang menangkap narasi juga ikut berpartisipasi. Ada etika dan hati nurani yang dikedepankan ketika bicara soal kemerdekaan pers,” imbuhnya.***(bgy)